[Part 1 ] Maaf, aku orang (kiri) dek.

[ini Fiks – i ]

Kau terlalu koleris untuk aku yang plegmatis. Yaa aku melihatmu sebagai sang api, sedang kau menilaiku sebagai air, semakin dipaksakan untuk bersama – kita akan sama sama menyakiti satu sama lain, Maaf untuk saat ini, aku juga memilih tak membersamaimu. - tulisku di akhir notes yang sampai sekarang aku enggan membukanya.

Mungkin di bagian tulisan yang kubaca atas dasar pencarian SEO di artikel yang berhubungan dengan tipe kepribadian,  aku banyak menemukan artikel yang mengulas penyempurnaan yang  didapatkan oleh pasangan yang memiliki kepribadian berbeda. mereka saling melengkapi untuk saling menyempurnakan.



------------------------------------------------------------------------------------

Hai, perkenalkan namaku Danica. Aku mencintai perjalanan hidupku namun terkadang aku benci untuk dicintai secara personal. Alasannya simple tapi aneh, apa itu ? karena peluang untuk menyakiti orang yang mencintaiku terlalu besar – itu alasan mengapa selama ini aku selalu mencoba menjaga hubungan dengan lawan jenis hanya untuk “sebatas penting” bukan untuk "sebatas saling".

Secara kepribadian, aku mudah untuk bergaul dan berteman dengan siapa saja. Aku memiliki sahabat yang benar-benar bisa kukatakan sahabat di berbagai kehidupanku. Yaa, aku bersyukur aku sering mengukir kisah yang meski memalukan untuk diingat namun aku rasa masa mudaku kelak bisa kuceritakan kepada masa depanku nanti. Dan semua sahabatku adalah perempuan. Aku bahagia menemukan mereka diantara milyaran manusia yang kutemui di bumi ini hehe.

Berbicara tentang pergaulan, aku merasa aku susah memiliki hubungan kedekatan yang dalam dengan lawan jenis (lak-laki). Sama seperti yang telah aku jabarkan diatas. "susah" disini bukan karena faktor eksternal seperti lingkungan atau apapun, melainkan lebih ke intern pribadi untuk tidak berhubungan secara berlebihan dengan laki-laki untuk menghindari perasaan cinta.

 "cinta" ya bukan "kagum" hehe, cinta dan kagum beda loh, aku yakin kalian udah tau kan ya bedanya. Jikapun sudah terlanjur ada yang membicarakan rasa, aku kerap malah menjauhi orang yang dengan terang berkata ada rasa kepadaku. 

Bukan karena aku tak suka ataupun aku tak memiliki rasa belas kasih atas usaha yang mereka lakukan, namun aku harap banyak mimpiku – mimpinya yang harus kita wujudkan sendiri-sendiri dulu. yaa bisa dibilang aku agak anti bucin untuk diriku. 

Teman dan lingkunganku kadang tak setuju dengan salah satu prinsip hidupku ini. Banyak yang  bertanya saat mereka sedikit kuspoilerkan kisah rumit yang pernah aku alami, seolah aku adalah orang yang beruntung mendapatkan laki-laki yang memiliki ciri khas dan kehebatan yang dominan. Banyak ungkapan pengandaian berupa “andai aku jadi kamu nis, aku bakalan membalasnya dengan mencintainya balik. Dia hebat loh bisa a, b, c ... x. Massa kamu biarin begitu aja sih ?” pun ada beberapa ungkapan yang mendukung usahaku tentang penjagan diri berupa “Percaya aja, yang terjaga insha Aallah ditakdirkan dengan yang menjaga, ketetapan Allah ngga perlu kita risaukan”

Yaa perdebatan itu sering banget kualami sebagai sosok yang seakan tak perduli dengan rasa, padahal andai mereka tau akupun sebenarnya sama. sama sama memiliki rasa , aku bukan dewi yang mungkin bisa memilih untuk bisa menahan perasaan, aku juga manusia biasa – dan aku juga wanita.


Yaa wanita, makhluk dengan gender yang selalu disterotipekan identik dengan dominan perasaan yang dikhusukan rasa “bapernya”. Aku sama, mungkin justru aku lebih memiliki rasa dibanding dia namun aku memilih diam dan ikhlas sampai aku benar-benar melihat keseriusannya di waktu yang tepat.

Temanku mengagetkanku “mikirin dia ya ?” aku hanya tersenyum tak berniatan mengobrol panjang perihal rasa, kukira asa lebih penting untuk direncanakan dibanding membahas obrolan intensif seperti rasa. Kujawab “let it flow” ( ikuti arus yang mengalir ). Temanku si melankolis ini langsung sontak menceramahiku “ngga semua hal bisa dipasrahin, semua butuh diperjuangin – ada rencana yang tetep harus kau tata bahkan untuk urusan sekcil rasa”

Aku memilih mengiyakan dibanding mendebati argumentasinya, “udah ya aku pulang dulu”

Kita berpisah hari itu, malam itu dengan pembahasan seolah aku kalah debat, padahal aku hanya mengalah.

Sedikit tentangku, aku adalah perempuan plegmatis yang sebenernya ngga plegmatis banget sih hehe. Ya aku termasuk golongan si ENFP ( yang suka tes-tes kepribadian tipe MBTI pasti pernah denger nih tipe ENFP ) ya sebenernya aku juga ngga ingin mendiagnosis untuk mengecap “aku lho si enfp” , namun setelah 7 x tes random 5 dari 7 hasil yang selalu aku temui adalah aku ENFP – P jadi engga papakan sekali-kali aku menganggap aku si enfp hehe.

Btw apasih ENFP ? singkatnya ENFP itu kepanjangan dari Extrovert, Intuition, Feeling, dan Perceiving mereka dikenal dengan si tipe kampanye, petualang bebas, komunikator ulung, idealis – spontan, dan jika ditafsirkan ke kedua kepribadian mereka cenderung ke sanguinis dan plegmatis. Untuk penjelasan lebih lanjut kapan kapan nanti dibahas dilain kesempatan ya tentang masing-masing tipe kepribadian hehe.

Sebagai seseorang yang memiliki kepribadian ENFP, aku merasa diriku terlalu aneh untuk menjalani kehidupan ini secara biasa biasa saja, eits hal ini bukan anggapan untuk menyombongkan diri untuk diakui bahwa “my life it’s amazing.” No, its wrong !

hal ini aku khusukan untuk beberapa pilihan yang mungkin agak nyeleweng namun aku punya alasan dan prinsip yang kuat tentang kenapa aku bisa melakukan itu. Awalnya aku mengecap diriku terlalu aneh , bahkan aku merasa asing terhadap diriku sendiri hingga akhirnya aku bertemu dengan sesosok laki-laki yang bilang “youre not strange, but youre unique “. Untuk saat itu bagi aku yang merasa seperti sedang dibodohi akan perdiksian, aku langsung menyanggah ucapannya dengan “maaf, meski perbendaharaan kosakata diksiku tidak sebanyak anda, namun setidaknya aku tidak terlalu miskin akan makna sinonim dalam perdiksian”. Yaa, Itu awal kenapa kita bisa sejauh ini memiliki kisah yang mungkin bagiku ini kisah romantis yang sok idealis hehe

Bersambung......




Komentar