Kehidupan seolah memutuskan kita untuk menjadi satu
sisi diantara banyak sisi, dan tak jarang pula menimbulkan suatu kebingungan yang besar bagi para
pemainnya. Kadang kerap kali kita menganggap apa yang akan kita pilih sekarang
benar-benar akan menjawab siapa kita di masa depan.
Saya
setuju dengan pendapat dari Ust Felix Siauw di bukunya “The Beyond Inspiration”
yang mengatakan “ siapa kita sekarang adalah akumulasi
kita di hari kemarin.” Hal ini cukup menampar hati dan membuka mata kita
bahwa kita harus benar -benar berfikir dalam mengambil keputusan dari berbagai
pilihan yang semakin kesini nyatanya semakin rumit.
Contoh
: SMA awal, kita disandingkan dengan pilihan jurusan IPA atau IPS, lalu
setelah lulus SMA kita akan menemukan
pertanyaan melanjutkan kuliah, bekerja
atau menikah. Jika kita memilih kuliah,
pilihan apa yang pas untuk kita demi masa depan. Jika memilih kerja, kerja apa
yang pantas kita ambil yang sesuai dengan visi misi serta penghasilan yang dibutuhkan,
jika kita memilih menikah apakah kita akan langsung memiliki anak atau tidak. Yaa begitu seterusnya,
Pun
sama ketika kita sudah memilih keputusan akan pilihan tesebut, kita lambat laun
akan didatangkan dengan pilihan lagi dengan intensitas resiko yang mungkin
lebih tinggi dari sebelumnya. Hal ini memang akan mengakumulasikan kita, namun
bukan berarti dengan pilihan terendah berupa tidak memilih sekalipun kita bisa
menjudge bahwa besok masa depan kita akan suram, tidak! itu kuasa Tuhan dan rahasia sang semesta.
Kenapa
harus ada pilihan tak memilih ? yang seolah olah mindset kita berbicara bahwa
“ah dasar orangnya aja yang ga punya pendirian makanya engga bisa memilih.”,
mungkin pada awalnya saya setuju dengan statment ini. Tapi bukankah semua punya
alasan ?
Kehidupan
itu unik dan misterius. Terkadang kesalahan yang terjadi, tidak sepenuhnya bisa
dianggap salah. Pun kebenaran yang ada bukan berarti harus terus kita dewakan.
Mereka diciptakan-pun sama, sama-sama memiliki 2 sisi yang jarang terlihat
adanya. Jalan terbaik dalam memaknai kehidupan adalah mengambil hikmah akan
setiap kejadian.
Mata
kita mungkin bisa melihat bahwa si x (orang) seperti tidak melakukan aktivitas
apa-apa ( sebut saja seperti malas ), namun kadang telinga kita jarang mau mendengar kenapa si x
engga mau melakukan apa-apa, karena jawaban disini bukan jawaban soal
matematika yang bisa kita logikakan dan rumuskan lalu cocokologi semaunya sendiri. Disini
sebagai manusia yang membedakan kita benar-benar manusia itu ada di rasa
kemanusiaan, bukan hanya di nafsu semata.
Beberapa
kali saya menjumpai pernyataan seseorang yang awalnya saya anggap itu hanya
pernyataan “playing victim” (seolah-olah menjadi korban dll ) tapi nyatanya
benar perkataan “kau takkan sempurna merasakan menjadi seorang artis , sebelum
kau jadi benar-benar artis.” Artinya misal teman kita kehilangan motivasinya,
ia bersedih lalu sempat tak memiliki semangat. Hal ini bukan karena ia tidak
ingin memberikan yang terbaik kepada dunia, bukan itu.
Baiklah,
mungkin masih ada pembenaran dari statment “ aku juga pernah merasakan tapi aku tidak segitunya.” Disini seakan kita
meremehkan kapasitas seseorang dan
menyombongkan siapa kita, padahal rasa kemanusiaan justru mengajarkan kita
tentang empati yang lama kelamaan memang sepertinya sudah mulai mati.
Saya
sering mendapatkan cerita, dengan kata-kata awal “ jika saya boleh memilih..
maka saya akan bla-la bla, tapi yaudahlah mungkin ini jalannya.” Kalian pun saya rasa
sama, pernah melakukan hal atau keputusan yang bahkan ngga sempat kalian
fikirkan di kehidupan sebelumya. Sesuatu yang ternyata merupakan kisah dari
sebagian di hidupmu. Kisah yang mungkin belum bisa kau terima sepenuhnya, namun
kau masih menjalankanya. Sulit bukan ?
Misal,
ada beberapa orang diluar sana yang dalam lubuk hati menginginkan melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dulu ia pernah dengan sangat
memperjuangkannya, bisa dikatakan mungkin sangat berambisi dalam mencapai
mimpinya. Namun ditengah jalan, ada kejadian yang dunia tak pernah tahu ia
pernah luka dan patah sejai-jadinya. Yang dunia tau hanya dia melarikan diri
dari mimpinya.
Ada
beberapa orang diluar sana yang memiliki mimpi namun dengan sengaja ia
memangkas mimpinya sendiri. Bukan karena tidak berjuang atas memilih pilihan
yang terjadi, bukan pula karena tidak ingin melanjutkan jalan menuju mimpinya.
Mereka sedang berjuang di jalan lain, pun jika seperti tidak memilih pilihan
yang disajikan dunia, sebenarnya bukan tentang mau / tidak , melainkan
merekapun sedang mencari jalan keluar berupa penerimaan.
Dari
ilustrasi tersebut, bisa kita tarik kesimpulan bahwa mungkin beberapa kali
pilihan itu seperti benar-benar menentukan masa depan kita nantinya, seakan
yang sekolah yang berhak sukses. yang tidak memilh sekolah maka akan sengsara.
Seakan yang menikah cepat adalah yang bahagia, sedangkan yang masih bersabar
hanya akan mendapatkan kegelisahan. Seakan yang memiliki banyak harta akan
merasa tenang terus, sedangkan yang tidak memiliki harta banyak akan terus
sedih. Seakan
Untungnya,
waktu adalah rentang yang tak pernah bisa ditebak oleh siapapun. Tuhan adalah
sutradara terbaik yang memiliki kejutan selepas kesedihan berupa kebahagiaan.
Syukurnya mereka yang seakan berjalan dengan awalan terpaksa, terus menumbuhkan rasa syukur.
Indahnya, akhir adalah bagian terindah dari kisah perjalanan kesuksesan yang
dititi berdasarkan sabar dan ikhlas.
Jadi
bagi kalian yang merasa kadang tidak diberi kesempatan untuk memilih pilihan
yang kalian inginkan, namun masih terus mencoba di jalan kebenaran meski dunia
pernah menjatuhkanmu sejatuh-jatuhnya. Percayalah, Tuhan sedang membiarkanmu
melewati jalan itu menuju jalan kebahagiaan yang bahkan kita juga tak pernah
terfikirkan sebelumnya.
Tak apa tak memilih dibagian pilihan yang kau inginkan, tetap semangaaat ! Tuhan masih beri kita banyak jalan

Komentar
Posting Komentar