Seperti biasa tidak ada yang istimewa
Dia
masih tetap menulis, tapi tulisannya tidak memiliki arti
Dia
masih tetap bepergian, tapi dia masih belum memiliki rumah untuk dituju
Bukan
karena dia tidak melupakan sesuatu di masa lalunya,
Bukan... sekali lagi, dia menegaskan bahwa dia tidak tertarik menjalin apapun yang telah selesai. Apapun
---------
Beberapa hal setelah hari itu,
perempuan itu tidak lagi menyelipkan apapun tentangnya dalam puisi apalagi
bait doa
ujar hatinya, Saya tidak tertarik membahas apapun tentangnya,
sedikit dipertegas mungkin saya tidak lagi menyukainya tapi satu hal yang ingin
saya tanamkan bahwa saya tidak perlu membenci apapun tentangnya,
“jangan buang energimu lebih jauh, jangan sia-siakan pikiranmu
untuk hal-hal yang tidak penting, masih banyak hal yang bisa kau lakukan” ujar
perempuan itu tatkala dia mulai tergiring opini untuk membenci orang yang
acapkali terlintas dipikirannya
-------
Perempuan itu tetap menikmati alur hidup seperti biasa, “rutinitas
yang cukup membosankan” pikirnya. Tapi dia percaya bahwa hidup sangat tidak
indah jika diisi dengan keluhan maupun desakan emosional negatif lainnya.
Dia mencoba biasa saja untuk menghadapi banyak kejadian yang luar
biasa,
“kemarin sudah melewati badai, masa iya mau kalah sama gerimis
biasa” ujarnya sambil menatap hujan yang mulai terlihat di luar rumah....
Perempuan itu terlihat mulai menulis di buku catatan usangnya,
Saya
tidak mengenggam sesuatu yang telah terlepas
Saya
hanya akan berjuang terhadap apapun yang memperjuangkan saya
Saya
tidak akan menunggu pada sesuatu yang semu
Saya
hanya akan menjaga untuk sesuatu yang terjaga pula
Saya
tidak pernah menyeriusi sesuatu yang bercanda
Karena
saya mencari yang serius untuk diajak bercanda sepanjang massa
Saya
tidak pernah takut untuk ditinggalkan
Karena
beberapa nilai diri saya adalah milik saya
Beberapa porsi diri saya, saya yang memiliki kendalinya
Dia berhenti di bait terakhir, menutup buku pinknya lalu mengembalikan di laci bernuansa pastel
---------
Sebulan
setelahnya, tak sengaja perempuan itu membaca suatu kabar tentang seseorang yang
tidak lagi dia perdulikan
Matanya sedikit terbelalak, mulutnya membungkam namun pikirannya berkecamuk hebat
Di hari
itu, bukan lagi tentang rindu maupun sayang yang akan perempuan itu bahas..
Hanya saja perempuan itu cukup terkejut mendengar kabarnya. Kabar yang sama sekali tidakm mengenakan untuk didengar siapapun.
Hm
bukan, bukan tentang kabar akhir masa kuliah (wisuda) ataupun akhir masa lajang
(pernikahan)
Kabar
yang sama sekali perempuan itu tidak menyangka bahwa laki-laki yang pernah ada
di hidupnya ternyata seperti ini
Perempuan itu terdiam...Perasaan dan pikirannya berkecamuk
seketika ia menangis, dia bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Tuhan lalu berkata lirih dalam hati
“Sekarang saya tau alasanMu tentang peristiwa pertemuan dan perpisahanku dengannya selama ini, Terimakasih banyak Tuhan telah memberi banyak jawaban atas banyak pertanyaanku di waktu yang benar-benar tepat”
Dia
terlihat berjalan ke arah laci pojokan kamarnya, dia mengeluarkan buku pink
kecilnya. Sembari menyeka air mata, dia menghela napas lalu mulai membuka catatan,
ya dia kembali menulis tentangnya
Dia rasa tulisan ini benar-benar menjadi tulisan terakhirnya tentang laki-laki itu...
Hai, rasanya sudah lama setelah saya memutuskan untuk tidak mengabadikan anda di dalam tulisan-tulisan saya,
saya
tidak menyangka bahwa saya akan kembali menuliskan sosok anda lagi.
Tapi untuk kali ini saya benar-benar berjanji,saya akan menamatkan tulisan saya tentang anda...
Saya tau, kita cukup banyak berbeda. Kita sepakat perihal itu, bukan?
Tapi
kali ini saya tidak menyangka bahwa saya akan menemui alasan kenapa mungkin
Tuhan tidak akan menyandingkan perbedaan diantara kita, ya sederhananya kita
memang tidak akan bersama apapun jalannya...
Setelah beberapa tahun lalu, saya tidak mencari siapapun untuk mengisi hati saya. Hati saya kosong..
saya
seringkali bertanya kepada Tuhan kenapa saya ditakdirkan untuk jadi makhluk
setia,
Ya,
setia terhadap hal-hal yang tidak pasti. Saya memang lucu bukan?
Tapi,ternyata
kini saya tau kenapa akhirnya meski kita sempat kembali bertemu, Tuhan tidak
menakdirkan saya bersamamu
Jawaban
sederhananya, maaf kalau ini terkesan jahat
“Setiaku
hanya pantas didapatkan oleh orang yang tepat, dan orangnya jelas bukan anda”
Setelah
mendengar kabar itu
Kalau
saya boleh jujur, saya membenci anda jauh lebih benci
Kalau saya bisa jahat, mungkin saya adalah orang yang paling keras untuk menertawakanmu
Tapi,
lucunya saya malah sedih
Pol-polaaannya,
saya hanya bisa kecewa terhadap anda
Namun
saya paham, saya bukan manusia yang baik
Mungkin
saja suatu hari nanti saya akan bertemu dengan kejamnya hidup, titik kerasnya
hidup
Titik
yang mungkin kini sedang anda dapati
Saya
kecewa atas dirimu, kak...
Tapi
jika saya boleh memberikanmu pesan dalam doa
Mungkin isinya:
Semoga,
kau tetap kuat bertarung dengan kerasnya kehidupan
Semoga,
kau akan kembali membaik meski kadang hidup tidak selalu baik-baik
Semoga,
ini kabar terakhir yang aku dengar tentang keburukanmu
Semoga
setelah kejadian ini, kau akan tetap berproses dalam ranah kebaikan
Terakhir, Semoga Allah selalu ada di hidupmu
Oiya
semoga kau ingat saat pertemuan akhir kita,
Pesanku
masih tetap sama : meski hidup ini keras, tetaplah hidup, jangan pernah
mengakhiri sebelum itu kehendak yang Kuasa!
--------
Perempuan
itu kembali menghela napas,
Perempuan itu berdoa, sedikit mendoakan hal-hal baik tentang laki-laki itu
Namun setelahnya, perempuan itu berjanji kepada dirinya sendiri
Saya
selesai, kisah apapun tentangnya benar-benar usai.
Episode di buku pink itu akan segera saya bakar, hangus beserta apapun bentuk tentangnya
Desember

Komentar
Posting Komentar